Ilustrasi Jakarta — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 diperkirakan mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya. Sejumlah lembaga riset dan ekonom memproyeksikan laju pertumbuhan tahunan (year-on-year) berada di kisaran 4,9 hingga 5,1 persen, menurun dari kuartal II yang tercatat sekitar 5,12 persen.
Pelemahan ini terutama disebabkan oleh faktor perlambatan investasi serta realisasi belanja pemerintah yang belum optimal.
Meski demikian, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 50 persen terhadap PDB.
Aktivitas konsumsi masih ditopang oleh inflasi yang stabil dan daya beli masyarakat yang relatif terjaga.

Ekonom menilai bahwa penundaan sejumlah proyek strategis, penurunan realisasi anggaran, dan faktor eksternal seperti pelemahan ekonomi global turut memengaruhi kinerja ekonomi nasional.
Sementara itu, kinerja ekspor menunjukkan sinyal positif berkat kenaikan harga komoditas dan surplus neraca perdagangan yang masih berlanjut.
Namun demikian, perlambatan investasi dan rendahnya belanja pemerintah dinilai menjadi pekerjaan rumah utama bagi pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi di akhir tahun.
Para analis menekankan pentingnya percepatan belanja fiskal dan penguatan iklim investasi guna mendorong pertumbuhan di kuartal berikutnya. “Stabilitas inflasi, percepatan realisasi anggaran, dan daya beli masyarakat akan menjadi kunci dalam menjaga momentum ekonomi nasional hingga akhir tahun,” ujar salah satu ekonom senior yang dikutip dari berbagai sumber.
Dengan kondisi ini, pemerintah diharapkan mampu memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter agar laju pertumbuhan tetap terjaga di atas lima persen hingga akhir 2025. (Red)

Tidak ada komentar