Foto : Tangkapan Layar IG REDAKSI BISNIS, Jakarta — Rencana Kementerian Keuangan menetapkan bea keluar untuk ekspor emas sebesar 7,5 hingga 15 persen memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Kebijakan ini dinilai dapat memberikan tekanan pada kinerja saham perusahaan tambang emas, terutama emiten yang mengandalkan pendapatan dari ekspor, 25/11/2025.
Dalam program Sapa Pagi Kompas TV, CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo, menjelaskan bahwa potensi tambahan beban fiskal akibat bea keluar emas bisa menggerus margin perusahaan.
Hal tersebut mendorong aksi ambil untung atau profit taking dari investor yang melihat adanya risiko penurunan kinerja.

Praska menambahkan bahwa tingginya volatilitas harga emas global ikut memperkuat sentimen negatif di pasar.
Harga emas dunia dalam setahun terakhir mengalami kenaikan signifikan dan sempat menyentuh level 4.200 hingga 4.300 dolar AS per troy ounce.
Namun kenaikan harga ini tidak otomatis menguntungkan emiten tambang apabila beban pajak meningkat.
Menurutnya, tidak semua emiten akan terdampak dalam skala yang sama. Perusahaan dengan porsi ekspor kecil dinilai lebih tahan terhadap kebijakan tersebut, sementara emiten seperti PT J Resources Asia Pasifik (PSAB) yang hampir seluruh produksinya dialokasikan untuk ekspor berpotensi mengalami dampak lebih besar.
Meski begitu, Praska menilai bahwa dampak jangka panjang dari kebijakan ini bagi sebagian emiten bisa saja bersifat minor.
Selain karena perusahaan dapat menyesuaikan strategi penjualan, faktor global seperti kebijakan suku bunga The Fed dan tren ekonomi makro akan tetap menjadi penentu utama arah harga emas.
Dari sisi pemerintah, bea keluar emas disiapkan sebagai bagian dari upaya hilirisasi industri pertambangan dan penguatan ekosistem bullion bank dalam negeri.
Kebijakan ini juga diyakini mampu memberikan kontribusi tambahan terhadap penerimaan negara, dengan estimasi potensi mencapai Rp 2 hingga 6 triliun per tahun.
Di pasar modal, sentimen bea keluar emas sudah terlihat memengaruhi pergerakan saham emiten logam mulia.
Dalam beberapa hari terakhir, harga saham sejumlah perusahaan tambang emas tercatat melemah seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap masa depan kinerja sektor tersebut. (FK)

Tidak ada komentar