Ketegangan yang membara di Timur Tengah mulai memicu efek domino global. Bank of America resmi memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi India akibat gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz yang memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat. (Karikatur: ©redaksibisnis.com)REDAKSI BISNIS, Mumbai — Bank of America (BofA) secara resmi memangkas proyeksi defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) India untuk tahun fiskal mendatang. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang mulai mengganggu stabilitas harga energi dan jalur logistik global, Rabu (15/4/2026).
Analis BofA menyebutkan bahwa India, sebagai salah satu konsumen minyak mentah terbesar di dunia, sangat rentan terhadap guncangan pasokan yang terjadi di Selat Hormuz. Meskipun India telah berupaya melakukan diversifikasi sumber energi, kenaikan harga minyak yang dipicu oleh ketegangan geopolitik diprediksi akan memperlebar defisit perdagangan mereka. BofA memperkirakan bahwa setiap kenaikan harga minyak yang signifikan akan langsung memberikan tekanan pada mata uang Rupee dan meningkatkan biaya impor secara keseluruhan.
Selain faktor energi, gangguan pada jalur pelayaran di kawasan konflik juga memicu pembengkakan biaya pengiriman (freight costs) bagi eksportir India. Kondisi ini memaksa lembaga keuangan internasional untuk menghitung ulang daya tahan ekonomi negara-negara berkembang (Emerging Markets) di Asia. “India berada dalam posisi sulit karena ketergantungan energinya yang tinggi, sehingga koreksi terhadap proyeksi CAD adalah langkah realistis untuk mengantisipasi volatilitas pasar yang lebih ekstrem,” tulis BofA dalam laporan riset terbarunya.
Secara bisnis, kondisi India ini menjadi cermin bagi Indonesia untuk tetap waspada. Meski fundamental ekonomi kita berbeda, tekanan inflasi global dari sektor energi tetap menjadi ancaman kolektif. Penurunan proyeksi oleh BofA ini menjadi sinyal bagi investor global untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan modal di pasar Asia, sembari memantau seberapa jauh eskalasi blokade di Timur Tengah akan berlanjut dan memukul rantai pasok manufaktur dunia. (MER)


Tidak ada komentar