Foto : Tangki penyimpanan minyak di Midland, Texas, AS, pada hari Kamis, 3 Oktober 2024./Bloomberg-Anthony Prieto
REDAKSI BISNIS – Harga minyak mentah dunia bergerak melemah pada awal 2026 seiring kondisi pasokan global yang dinilai masih melimpah, meskipun dinamika geopolitik terkait Venezuela menimbulkan ketidakpastian baru di pasar energi internasional.
Pada perdagangan Rabu (7/1/2026), harga minyak berjangka Brent tercatat turun ke kisaran US$61 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat bergerak di level sekitar US$57 per barel.
Pelemahan harga ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi surplus pasokan yang berlanjut sepanjang tahun.
Analis energi menilai, dampak politik di Venezuela belum memberikan pengaruh signifikan terhadap keseimbangan pasar global.

Produksi minyak dunia diperkirakan tetap mencukupi, baik dengan maupun tanpa tambahan pasokan dari negara anggota OPEC tersebut.
Laporan lembaga riset internasional menunjukkan pertumbuhan permintaan minyak global sepanjang 2025 relatif terbatas dan berada di bawah rata-rata historis.
Di sisi lain, produksi dari negara-negara OPEC dan non-OPEC justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan, sehingga menciptakan tekanan berlebih pada sisi pasokan.
Kondisi tersebut membuat pasar memasuki 2026 dengan cadangan minyak yang kuat.
Bahkan, sejumlah analis memperkirakan potensi surplus pasokan dapat mencapai jutaan barel per hari pada paruh pertama tahun ini, jika tidak diimbangi dengan lonjakan permintaan.
Tekanan harga juga diperkuat oleh ekspektasi kenaikan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat.
Data awal menunjukkan stok minyak dan produk turunannya cenderung meningkat, menandakan aktivitas konsumsi yang belum sepenuhnya pulih.
Sementara itu, perkembangan politik di Venezuela terus menjadi perhatian pelaku pasar.
Penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh otoritas Amerika Serikat dinilai berpotensi membuka kembali diskursus mengenai sanksi dan embargo minyak terhadap negara tersebut.
Meski demikian, analis memperkirakan peningkatan produksi minyak Venezuela dalam jangka pendek akan terbatas.
Industri migas negara tersebut masih menghadapi tantangan struktural, termasuk minimnya investasi dan keterbatasan infrastruktur, sehingga tambahan pasokan dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan tidak terlalu besar.
Dengan kombinasi pasokan global yang kuat dan pertumbuhan permintaan yang moderat, pasar menilai harga minyak dunia masih berisiko mengalami tekanan sepanjang 2026, kecuali terjadi perubahan signifikan pada sisi geopolitik atau kebijakan produksi global.

Tidak ada komentar