Bisnis brownies nostalgia: Antrean viral jadi target ekspansi franchise 2026. (Foto: RedaksiBisnis.com)REDAKSI BISNIS, Jakarta — Sektor kuliner domestik mencatat lonjakan pertumbuhan pada kategori kudapan tradisional yang dimodifikasi, dengan produk “Brownies Lumer” memimpin pasar sepanjang kuartal pertama 2026. Fenomena ini menandai kebangkitan model bisnis berbasis nostalgia yang kini menjadi target investasi utama para pemburu kemitraan (franchise) lokal.
Berdasarkan data tren konsumsi mikro, terdapat kenaikan permintaan sebesar 25% pada makanan penutup (dessert) yang menggabungkan resep klasik dengan teknik penyajian modern. Di Jakarta, beberapa titik hotspot kuliner seperti area perkantoran Sudirman dan kawasan kuliner Tebet mulai didominasi oleh booth-booth berdesain minimalis yang menjual varian cokelat lumer dan kue jadul premium.
Salah satu contoh sukses yang menjadi pembicaraan adalah outlet “Memori Manis” di Jakarta Selatan, yang melaporkan penjualan hingga 300 porsi per hari hanya dalam satu bulan operasional. Kekuatan bisnis ini terletak pada user experience—konsumen tidak hanya membeli kue, tapi “membeli” kenangan masa kecil yang dikemas secara estetik untuk konten media sosial.
“Kuncinya ada pada adaptasi. Kami mengambil basis brownies klasik yang semua orang tahu, tapi kami tambahkan elemen gourmet dan kemasan yang Instagrammable. Hasilnya, margin kita bisa stabil di angka 40%,” ujar Reza Pratama, salah satu pionir bisnis kue lumer.

Bagi calon pengusaha, model bisnis ini menawarkan hambatan masuk (barrier to entry) yang relatif rendah dengan modal awal di bawah Rp20 juta untuk skala booth. Namun, pengamat bisnis memperingatkan bahwa persaingan akan semakin ketat. “Ini adalah bisnis kecepatan. Siapa yang paling cepat membangun brand awareness di TikTok dan menjaga rantai pasok bahan baku cokelat, dia yang akan bertahan saat pasar jenuh,” tulis analisis tim riset Redaksi Bisnis.
Redaksi mencatat beberapa poin krusial bagi lo yang ingin terjun di tren ini:
Standardisasi Rasa: Pastikan tekstur “lumer” konsisten di setiap cabang.
Visual Branding: Desain outlet harus kontras dengan jajanan pasar konvensional.
Digital Marketing: Gunakan narasi nostalgia yang kuat pada setiap caption promo.
Redaksi memprediksi tren “Nostalgia Bisnis” ini akan terus berkembang hingga akhir 2026, merambah ke kategori lain seperti minuman sarsaparilla botolan dan jajanan pasar berbahan dasar singkong yang di-upgrade. Investor ritel disarankan untuk mulai melirik potensi franchise pada merek-merek yang sudah memiliki sistem manajemen stok yang rapi.
(MER)

Tidak ada komentar