Foto : Sumber Tempo.coJakarta — Pemerintah menegaskan tidak ingin mengulangi kegagalan proyek substitusi LPG seperti yang terjadi pada periode sebelumnya. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, memastikan proyek pengganti LPG berbasis gasifikasi batu bara atau dimetil eter (DME) akan berjalan lebih matang dan terukur, 6/11/2025.
Rosan menyatakan, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anangata Nusantara (Danantara) akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek proyek, mulai dari teknologi hingga kesiapan investasi. Menurutnya, proyek DME memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG dan memanfaatkan sumber daya batu bara nasional secara optimal.
“Teknologi yang kita utamakan harus yang mutakhir dan efisien agar hasilnya berkelanjutan dan tidak mengulang kegagalan yang lalu,” ujar Rosan di Jakarta.
Sebagai bentuk keseriusan, Danantara disebut tidak menutup kemungkinan untuk ikut berinvestasi langsung dalam proyek tersebut.

Pemerintah juga akan memperkuat kerja sama dengan investor dalam dan luar negeri untuk memastikan pendanaan dan teknologi yang dibutuhkan dapat terealisasi.
Proyek DME ini rencananya dikembangkan di sejumlah daerah seperti Bulungan (Kalimantan Utara), Kutai Timur (Kalimantan Timur), Kota Baru (Kalimantan Selatan), serta Muara Enim, Pali, dan Banyuasin (Sumatera Selatan).
Total nilai investasi yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp164 triliun dan diperkirakan mampu membuka lebih dari 34 ribu lapangan kerja baru.
Melalui langkah ini, pemerintah berharap proyek DME dapat menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional, mengurangi defisit impor LPG, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah penghasil batu bara.

Tidak ada komentar