Efek boikot bikin produk lokal naik kelas, BRIN dorong penggunaan logo nasional sebagai filter produk bagi konsumen. (Karikatur: ©redaksibisnis.com)REDAKSI BISNIS, Jakarta — Gerakan boikot terhadap produk yang terafiliasi dengan Israel terbukti memberikan efek manis bagi pertumbuhan industri dalam negeri. Berdasarkan riset kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Indonesia Halal Watch (IHW) yang dirilis pada Kamis (9/4/2026) lalu, fenomena ini telah memicu lonjakan permintaan yang signifikan terhadap merek-merek nasional di berbagai sektor ritel.
Gerakan boikot ini merupakan aksi kolektif konsumen untuk berhenti menggunakan produk dari perusahaan yang dianggap memiliki keterkaitan ekonomi dengan pihak yang terlibat dalam konflik di Palestina. Tujuannya jelas, yakni memberikan tekanan ekonomi sekaligus bentuk solidaritas kemanusiaan. Hasil riset yang dirilis pekan lalu itu menunjukkan bahwa masyarakat kini jauh lebih selektif dalam berbelanja, yang secara otomatis menguntungkan pelaku UMKM dan produsen lokal di sektor makanan, minuman, hingga kosmetik.
Direktur IHW dalam laporan riset tersebut menekankan bahwa kondisi pasar saat ini sangat mendesak adanya logo khusus atau identitas nasional yang jelas pada kemasan produk. Hal ini penting agar konsumen tidak bingung membedakan mana produk murni industri nasional dan mana produk multinasional yang masuk dalam daftar boikot. “Logo nasional ini mendesak agar masyarakat memiliki proteksi pasar yang kuat dan tidak ragu dalam memilih produk kebanggaan dalam negeri,” ungkapnya dalam rilis yang diterima pekan lalu.
Meski data ini baru terungkap secara luas belakangan ini, momentum kebangkitan merek lokal tersebut dianggap sebagai peluang emas yang harus dijaga keberlanjutannya. Pemerintah diharapkan segera merespons hasil riset BRIN ini dengan memfasilitasi standarisasi logo nasional. Dengan adanya dukungan data ilmiah, gerakan boikot kini bukan lagi sekadar aksi moral, melainkan faktor determinan baru yang mampu merubah peta persaingan ritel dan memperkuat kedaulatan ekonomi domestik secara permanen. (MER)


Tidak ada komentar