banner 970x250

Sagu Marind Berpotensi Jadi Produk Unggulan Ekonomi Lokal, Inovasi dan Perlindungan Adat Jadi Kunci

4 menit membaca View : 41
EDITOR
Ekonomi, Nasional, News - 17 Sep 2026

REDAKSIBISNIS — Sagu berpotensi menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal di Merauke, Papua Selatan.

Namun, pemanfaatannya perlu mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya, nilai budaya, serta keterlibatan masyarakat adat.

Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University 2026 yang berlangsung di Kampung Matara, Salor, pada 7 September 2026.

Dalam forum tersebut, masyarakat Marind menyampaikan aspirasi mengenai masa depan sagu di tengah perubahan pola konsumsi dan penggunaan lahan, termasuk peluang pengembangan produk olahan yang memiliki nilai tambah ekonomi.

banner 970x250

Bagi masyarakat Marind, sagu bukan sekadar komoditas pangan yang dapat diperdagangkan. Keberadaannya berkaitan erat dengan adat, identitas budaya, dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Ungkapan “Sagu habis, adat hilang” menggambarkan bahwa keberlanjutan sagu juga menyangkut kelangsungan kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Kondisi ini menjadi pertimbangan penting dalam merancang pengembangan ekonomi berbasis sagu, agar orientasi peningkatan nilai ekonomi tidak mengabaikan hak, pengetahuan, dan tata nilai masyarakat setempat.

Dalam perspektif ekonomi pangan, perubahan konsumsi dari sagu menuju beras menjadi salah satu tantangan yang dibahas dalam FGD. Pada saat bersamaan, perubahan penggunaan lahan berpotensi memengaruhi ruang tumbuh sagu dan keberlanjutan sumber bahan baku.

Jika tidak dikelola dengan memperhatikan kondisi lokal, perubahan tersebut dapat berdampak terhadap ketersediaan pangan tradisional serta peluang usaha masyarakat yang bergantung pada sagu.

Karena itu, pengembangan ketahanan pangan di Merauke diharapkan tidak hanya berfokus pada sawah, tetapi juga memperhatikan potensi ekonomi dan pangan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Peluang peningkatan nilai tambah sagu turut menjadi perhatian dalam diskusi. Salah satu gagasan yang muncul adalah pengolahan sagu menjadi produk es krim. Inovasi tersebut membuka kemungkinan pengembangan diversifikasi produk pangan berbasis bahan baku lokal.

Pengolahan sagu menjadi produk dengan bentuk dan segmen pasar yang berbeda dapat menjadi salah satu opsi untuk memperluas pemanfaatannya.

Meski demikian, gagasan tersebut masih perlu dikembangkan lebih lanjut melalui kajian mengenai proses produksi, kebutuhan bahan baku, penerimaan konsumen, serta kelayakan usaha sebelum dapat dinilai sebagai peluang bisnis yang berkelanjutan.

Pengembangan usaha berbasis sagu juga perlu memperhatikan aturan adat masyarakat Marind. Dalam forum tersebut, masyarakat menyampaikan prinsip bahwa sesama suku Marind tidak diperbolehkan melakukan jual beli sagu.

Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan sagu memiliki dimensi sosial dan budaya yang perlu dipahami sebelum suatu model bisnis dirancang.

Oleh sebab itu, pengembangan ekonomi sagu perlu melibatkan masyarakat dan tokoh adat dalam menentukan bentuk pemanfaatan yang sesuai dengan tata nilai setempat, sehingga kegiatan ekonomi dapat berjalan dengan tetap menghormati adat.

Selain itu, masyarakat menyampaikan harapan agar kegiatan penelitian dan pengumpulan data tidak berhenti pada penyusunan laporan.

“Jangan ambil data-data saja, kita masyarakat bosan kalau terus-terusan seperti itu,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam FGD.

Aspirasi tersebut berkaitan dengan pentingnya tindak lanjut yang dapat dirasakan masyarakat, termasuk dalam pengembangan potensi ekonomi lokal.

Informasi mengenai sagu, pengetahuan masyarakat, dan kondisi wilayah diharapkan dapat menjadi dasar bagi program yang berkelanjutan serta membuka ruang partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan.

Dalam pembahasan jangka panjang, masyarakat turut menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan sagu selama lima tahun mendatang.

Perencanaan tersebut perlu mempertimbangkan kesinambungan bahan baku, pelestarian pengetahuan lokal, pengembangan inovasi, dan keterlibatan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan sagu dapat dibahas tidak hanya sebagai upaya menjaga pangan tradisional, tetapi juga sebagai peluang membangun kegiatan ekonomi yang selaras dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat Marind.

Aspirasi masyarakat Matara disampaikan melalui pesan, “Sampaikan ke Bapak Menteri, jangan fokus ke sawah saja tetapi ke sagu juga.” Pesan tersebut mencerminkan harapan agar kebijakan ketahanan pangan turut memberi ruang bagi pengembangan pangan lokal dan potensi ekonomi daerah.

Bagi masyarakat Marind, keberlanjutan sagu mencakup lebih dari sekadar ketersediaan bahan pangan. Di dalamnya terdapat adat, pengetahuan, dan identitas budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Pengembangan ekonomi berbasis sagu pun perlu dirancang dengan memperhatikan keberlanjutan sumber daya, nilai tambah produk, serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat setempat. (Red)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xbanner 970x250
xbanner 970x250
CLOSE ADS