
REDAKSIBISNIS.COM | MERAUKE — Limbah pengolahan sagu mulai dilirik sebagai bahan baku alternatif yang berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan bernilai ekonomi.
Peluang tersebut diperkenalkan Tim 12 Ekspedisi Patriot IPB University melalui pelatihan budidaya jamur berbahan ampas sagu di Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, 16–17 Oktober 2026.
Pelatihan tersebut diikuti 25 peserta yang terdiri atas anggota Kelompok Tani Dwitrap, PKK dan masyarakat Kampung Tambat. Kegiatan menghadirkan Dr. Iwan Saskiawan dari Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai narasumber.
Dari perspektif ekonomi, pemanfaatan ampas sagu membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas lokal.

Limbah yang sebelumnya hanya menjadi sisa proses pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya jamur pangan, sehingga menciptakan alternatif kegiatan produktif bagi masyarakat.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada budidaya dua jenis jamur, yakni jamur tiram dan jamur merang.
Selain mendapatkan materi mengenai potensi ampas sagu sebagai media tanam, peserta juga melakukan praktik mulai dari pencampuran bahan media, sterilisasi hingga inokulasi atau penanaman bibit jamur.
Praktik langsung tersebut menjadi bagian penting untuk memperkenalkan proses produksi dari hulu. Masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai budidaya, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai kemungkinan mengembangkan usaha pangan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Bagi Kampung Tambat, model tersebut berpotensi membangun rantai ekonomi baru yang menghubungkan pengolahan sagu dengan usaha pangan turunan.
Jika dapat dikembangkan secara konsisten, pemanfaatan ampas sagu dapat mengurangi limbah sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi kelompok masyarakat.
Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan pengembangan lebih lanjut, terutama terkait produktivitas, ketersediaan bahan baku, kualitas hasil panen, biaya produksi, akses pasar dan kesinambungan permintaan.
Aspek tersebut menjadi penting agar budidaya jamur tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan usaha yang memiliki nilai ekonomi.
Pelatihan Tim 12 Ekspedisi Patriot IPB University ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat Kampung Tambat untuk melihat ampas sagu bukan hanya sebagai limbah, tetapi sebagai bahan yang dapat diolah kembali menjadi produk pangan bernilai tambah.
Pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal tersebut sekaligus membuka peluang diversifikasi ekonomi masyarakat di tengah potensi besar komoditas sagu Merauke. (Red)

Tidak ada komentar