banner 970x250

Tata Kelola Diperkuat, Kelompok Tani Sagu Dwitrap Merauke Didorong Kembangkan Usaha Berkelanjutan

2 menit membaca View : 21
EDITOR
Bisnis, Ekonomi, Nasional - 18 Okt 2026

REDAKSIBISNIS.COM | MERAUKE — Penguatan tata kelola menjadi salah satu kunci pengembangan usaha berbasis komoditas lokal. Hal tersebut menjadi perhatian Tim 12 Ekspedisi Patriot IPB University bersama Kementerian Transmigrasi saat mendampingi Kelompok Tani Dwitrap di Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Pendampingan melalui kegiatan Penguatan Kelembagaan Ekonomi tersebut berlangsung pada Rabu (14/10/2026).

Fokus kegiatan mencakup pembenahan struktur organisasi, pembagian tugas, penyusunan rencana kerja, pengelolaan usaha hingga strategi pemasaran agar aktivitas ekonomi kelompok dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Dosen IPB University, Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., menilai struktur organisasi perlu diikuti dengan pembagian tanggung jawab dan pedoman kerja yang jelas. Kejelasan tersebut penting untuk memastikan setiap anggota memahami perannya sekaligus mendukung pengelolaan usaha secara bersama.

banner 970x250

Kelompok Tani Dwitrap memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan pengolahan sagu. Kegiatan tersebut telah dimulai sejak Desember 2003 dengan metode pengolahan manual. Penggunaan mesin parut mulai dilakukan pada 13 Januari 2007.

Pengembangan kemudian mendapat dukungan melalui survei Kementerian Pertanian pada 2018 dan bantuan mesin ketahanan pangan pada 2019.

Produksi tepung sagu tercatat mulai berjalan pada 15 Agustus 2019 dengan Yakobus Yatmop sebagai salah satu pelopor. Saat ini, Dwitrap memiliki 20 anggota yang terdiri atas lima petani sagu, lima pengelola sagu dan 10 orang bagian produksi. Jumlah tersebut turun dari sebelumnya 25 anggota.

Dari sisi bisnis, salah satu tantangan yang dihadapi kelompok adalah kesinambungan produksi dan pasar. Aktivitas produksi saat ini masih dijalankan oleh sebagian anggota karena anggota lainnya memiliki kesibukan dan prioritas kegiatan berbeda.

Sementara itu, pemasaran produk juga mengalami fluktuasi, termasuk sempat terhenti saat pandemi COVID-19.

Permintaan produk sagu juga disebut cenderung meningkat pada momentum tertentu, seperti Ramadan dan Natal.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi pemasaran yang lebih terencana agar penjualan tidak hanya bergantung pada periode musiman.

Penguatan kelembagaan juga diarahkan pada penyusunan aturan internal secara tertulis. Kesepakatan kelompok yang dibentuk sejak 2019 selama ini masih bersifat tersirat.

Kejelasan aturan dinilai penting untuk mengatur pembagian tugas, tanggung jawab anggota serta mekanisme pembagian manfaat dari kegiatan usaha.

Dalam kepengurusan terbaru, posisi bendahara yang sebelumnya dijalankan Samuel Haremba kini dipercayakan kepada Margareta, istri Yakobus Yatmop.

Samuel Haremba saat ini menjabat sebagai Kepala Kampung Tambat. Sementara posisi sekretaris tetap dipegang Fransiskus.

Penguatan kelembagaan tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi Dwitrap dalam mengembangkan usaha sagu secara lebih profesional.

Dengan tata kelola yang lebih jelas, kelompok diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar dan menciptakan manfaat ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat Kampung Tambat.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xbanner 970x250
xbanner 970x250
CLOSE ADS