banner 970x250

Sagu Merauke Punya Nilai Bisnis Besar, Ekspedisi Patriot IPB University Dorong Generasi Muda Naikkan Nilai Tambah

3 menit membaca View : 58
EDITOR
Bisnis, Ekonomi, News - 17 Sep 2026

REDAKSI BISNIS — Sagu tidak hanya memiliki posisi penting sebagai pangan lokal masyarakat Papua, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi melalui diversifikasi produk dan pengembangan usaha berbasis komoditas daerah.

Potensi tersebut menjadi perhatian Tim Ekspedisi Patriot IPB University yang mendorong penguatan literasi sagu melalui pendidikan di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Dorongan tersebut diwujudkan melalui workshop integrasi literasi pangan lokal sagu ke dalam kurikulum muatan lokal yang berlangsung pada 12–13 September 2026 di SMAN 1 Kurik, Kabupaten Merauke.

Kegiatan tersebut mempertemukan guru dan penyuluh pertanian untuk membahas sagu dari sisi pangan, budaya, lingkungan, sosial hingga peluang pengembangan ekonomi.

banner 970x250

Dari perspektif bisnis, pengembangan sagu memiliki ruang untuk menciptakan nilai tambah apabila tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.

Diversifikasi menjadi produk pangan olahan dapat membuka peluang usaha baru, memperluas pasar, sekaligus memberikan ruang bagi pelaku UMKM dan generasi muda untuk masuk ke dalam rantai nilai komoditas lokal.

Ketua Tim 10 Ekspedisi Patriot IPB University, Tri Budiarto, SKPm, MSi, menyampaikan adanya kekhawatiran terhadap pergeseran generasi muda dalam mengonsumsi sagu dan menjadikannya bagian dari budaya.

Persoalan tersebut juga berkaitan dengan semakin terbatasnya lahan sagu akibat tekanan alih fungsi lahan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan ekosistem ekonomi sagu. Ketika konsumsi lokal dan pengetahuan generasi muda terhadap sagu menurun, peluang pengembangan komoditas tersebut juga berpotensi ikut melemah.

Karena itu, pendidikan dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kembali pengetahuan sekaligus ketertarikan generasi muda terhadap sagu.

Dalam workshop, Untung, S.Pd., Kepala Bidang Pengendalian Perizinan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, menyampaikan materi mengenai transformasi pendidikan.

Pembahasan tersebut mencakup pembangunan pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemerataan pendidikan di daerah.

Sementara itu, Nila Sari Katemba, S.Pd., praktisi literasi pangan lokal dari Morowali, memperkenalkan pendekatan kreatif dalam mengembangkan produk berbahan sagu.

Menurutnya, sagu dapat diolah menjadi berbagai produk pangan sekaligus menjadi bagian dari penguatan UMKM dan ruang kewirausahaan generasi muda.

Salah satu praktik yang dilakukan peserta adalah mengolah tepung sagu menjadi cookies. Peserta mempraktikkan proses mulai dari persiapan bahan, pembuatan adonan, pencetakan hingga pemanggangan.

Dari perspektif ekonomi, praktik tersebut memperlihatkan bagaimana inovasi sederhana dapat menjadi salah satu cara meningkatkan nilai tambah bahan pangan lokal.

Guru SMKN 5 Merauke, Mathelda, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan wawasan mengenai beragam pemanfaatan sagu.

Pengetahuan tersebut diharapkan dapat dibawa ke sekolah dan diperkenalkan kepada siswa sehingga mereka memiliki pemahaman lebih luas mengenai potensi sagu.

Selain pelatihan, Tim Ekspedisi Patriot IPB University membagikan modul pembelajaran kepada peserta. Materi tersebut diharapkan dapat membantu guru dan penyuluh meneruskan literasi sagu melalui pembelajaran maupun kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Pengembangan ekonomi sagu pada akhirnya membutuhkan keterhubungan antara ketersediaan bahan baku, inovasi produk, sumber daya manusia, pasar, dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam konteks Merauke, penguatan literasi sejak sekolah dapat menjadi bagian dari proses membangun generasi yang memahami komoditas lokal sekaligus mampu melihat peluang bisnis di dalamnya.

Dengan pendekatan tersebut, sagu berpotensi ditempatkan bukan hanya sebagai warisan pangan masyarakat Papua, tetapi juga sebagai bagian dari rantai ekonomi lokal yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Pendidikan menjadi salah satu fondasi untuk memperkenalkan nilai tambah, inovasi, dan kewirausahaan tanpa menghilangkan keterikatan sagu dengan budaya serta pengetahuan masyarakat setempat.(Soly/Tri)

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xbanner 970x250
xbanner 970x250
CLOSE ADS