banner 970x250

Hilirisasi Sagu Papua Selatan Bidik Peluang Pasar, UMKM Didorong Naik Kelas

3 menit membaca View : 105
EDITOR
Bisnis, Ekonomi, Nasional, News - 24 Okt 2026

REDAKSIBISNIS.COM | MERAUKE — Pengembangan sagu di Papua Selatan mulai diarahkan pada penguatan nilai tambah ekonomi melalui diversifikasi produk, pemanfaatan limbah, dan perluasan akses pemasaran.

Upaya tersebut dibahas dalam audiensi Wakil Gubernur Papua Selatan Pascalis Imadawa bersama Guru Besar IPB University Prof. M.H. Bintoro dan Tim Sagu Ekspedisi Patriot IPB University di Kawasan Transmigrasi Salor, Merauke.

Dari perspektif bisnis, sagu memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan dengan rantai usaha yang mencakup penyediaan bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran.

Pengembangan tersebut berpotensi membuka ruang usaha bagi kelompok masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal.

banner 970x250

Guru Besar IPB University Prof. M.H. Bintoro menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi hutan sagu sekitar 5,5 juta hektare, dengan sebagian besar berada di Papua.

Ketersediaan bahan baku tersebut menjadi modal untuk mengembangkan industri pangan berbasis sagu, sepanjang didukung pengelolaan yang tepat, teknologi pengolahan, serta sistem usaha yang berkelanjutan.

Salah satu peluang ekonomi yang dikembangkan Tim Sagu Ekspedisi Patriot IPB University adalah diversifikasi produk.

Masyarakat Kampung Tambat mendapatkan pendampingan untuk mengolah tepung sagu menjadi mi sagu, beras sagu, gula cair bermerek Sagula, serta produk makanan beku berbahan dasar sagu.

Ragam produk tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas dibandingkan hanya menjual bahan baku mentah.

Dari sisi bisnis, diversifikasi produk dapat menjadi strategi untuk meningkatkan nilai jual komoditas. Namun, keberlanjutan usaha tetap membutuhkan pengendalian kualitas, konsistensi pasokan, pengemasan yang sesuai, perhitungan biaya produksi, serta kepastian permintaan pasar.

Dengan demikian, inovasi produk perlu diikuti penguatan kemampuan usaha agar dapat berkembang secara komersial.

Tim juga mendorong pembentukan rantai pasok lokal melalui kegiatan business matching yang mempertemukan kelompok pengolah sagu dengan pelaku UMKM dan calon pembeli.

Skema ini diharapkan dapat membantu mempertemukan kebutuhan pasar dengan kapasitas produksi masyarakat, sekaligus membuka peluang kemitraan yang lebih berkelanjutan.

Selain produk utama, potensi ekonomi sagu juga dikembangkan melalui pemanfaatan hasil samping. Ampas sagu diarahkan untuk digunakan sebagai bahan kompos hortikultura, pakan ternak, serta media budidaya jamur tiram dan jamur merang.

Pendekatan tersebut membuka peluang pengembangan usaha turunan sekaligus mengurangi limbah dari kegiatan pengolahan.

Pada sektor produksi, tim mengembangkan pembibitan sagu yang dipadukan dengan budidaya ikan lele. Model ini memperlihatkan peluang integrasi beberapa kegiatan produktif dalam satu kawasan.

Meski demikian, penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan, kebutuhan pasar, ketersediaan modal, serta kemampuan pengelolaan masyarakat.

Dalam evaluasi pendampingan, Tim Sagu Ekspedisi Patriot IPB University turut mengidentifikasi kebutuhan masyarakat berupa ketepatan distribusi bibit sagu dan ketersediaan mesin pengolahan.

Dari sisi pengembangan industri lokal, dukungan peralatan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, efisiensi kerja, dan konsistensi mutu produk.

Wakil Gubernur Papua Selatan Pascalis Imadawa menyambut baik program tersebut. Pemerintah provinsi berencana menindaklanjuti pembahasan melalui rapat koordinasi teknis yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Dinas Ketahanan Pangan.

Koordinasi lintas perangkat daerah itu akan diarahkan untuk menyusun perencanaan tertulis mengenai pengembangan hilirisasi sagu, termasuk aspek perizinan produk olahan dan kemungkinan integrasi program ke dalam perencanaan serta penganggaran daerah.

Bagi pengembangan ekonomi Papua Selatan, langkah tersebut penting untuk menghubungkan potensi sumber daya alam dengan kegiatan usaha yang memberikan nilai tambah di tingkat lokal.

Dukungan pemerintah, perguruan tinggi, kelompok pengolah, dan pelaku UMKM dapat membantu memperkuat ekosistem bisnis sagu, mulai dari produksi hingga pemasaran.

Ke depan, peluang pengembangan sagu tidak hanya ditentukan oleh besarnya ketersediaan bahan baku, tetapi juga oleh kemampuan menghasilkan produk yang kompetitif, membangun jaringan distribusi, dan menjaga keberlanjutan usaha.

Penguatan aspek-aspek tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat Papua Selatan sekaligus mendukung ketahanan pangan berbasis komoditas lokal.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xbanner 970x250
xbanner 970x250
CLOSE ADS