banner 970x250

Sekolah Lapang IPB University Dorong Penguatan Usaha Perbenihan Padi di Merauke

6 menit membaca View : 12
EDITOR
Bisnis, Ekonomi, Nasional - 25 Okt 2026

REDAKSIBISNIS.COM — Pengembangan usaha perbenihan padi membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknis, pemahaman administrasi, serta pengetahuan mengenai mutu hasil pertanian.

Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Sekolah Lapang (SL) Kedua yang dilaksanakan Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University di Balai Kampung Sermayam Indah, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Jumat (23/10/2026).

Kegiatan ini melibatkan petani dan calon produsen benih padi untuk memperkuat pemahaman mengenai tata kelola perbenihan, teknik budidaya, proses produksi benih bermutu, serta pengenalan varietas padi yang berpotensi dikembangkan sesuai kebutuhan pertanian setempat.

Sekolah Lapang menghadirkan Abbas Alibasyah, S.P. sebagai narasumber, didampingi Ketua Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University, Dr. Astryani Rosyad, S.P., M.Si. Materi yang disampaikan menggabungkan pembekalan teknis dengan pengenalan karakteristik hasil padi melalui pengujian kualitas beras dan nasi.

banner 970x250

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas calon produsen benih agar mampu memahami proses produksi secara menyeluruh. Kemampuan tersebut diperlukan untuk mendukung pengembangan usaha perbenihan yang terencana, memenuhi ketentuan mutu, dan berorientasi pada kebutuhan petani.

Administrasi dan Mutu Menjadi Perhatian dalam Produksi Benih

Dalam sesi pembelajaran, Abbas Alibasyah menyampaikan materi mengenai administrasi bagi calon produsen benih. Aspek ini menjadi bagian penting dalam pengelolaan usaha perbenihan karena setiap tahapan produksi membutuhkan pencatatan yang jelas dan dapat ditelusuri.

Administrasi mencakup dokumentasi benih sumber, identitas varietas, luas pertanaman, waktu tanam, kegiatan pemeliharaan, hingga hasil panen. Pencatatan yang tertib dapat membantu produsen memantau perkembangan produksi, melakukan evaluasi, dan menjaga konsistensi pengelolaan benih.

Dalam perspektif pengembangan usaha, kemampuan mengelola administrasi juga membantu pelaku perbenihan menyusun kegiatan secara lebih sistematis.

Data produksi dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi kebutuhan sarana produksi, penggunaan benih sumber, serta hasil yang diperoleh dari setiap musim tanam.

Namun, keberhasilan produksi benih tidak cukup ditentukan oleh administrasi. Produsen juga harus memahami teknik budidaya, menjaga kemurnian varietas, dan memenuhi persyaratan teknis yang berlaku.

Melalui pembekalan tersebut, peserta diharapkan mampu memahami keterkaitan antara pengelolaan administrasi dan mutu produk yang dihasilkan. Pengetahuan ini menjadi modal untuk mengembangkan kegiatan perbenihan secara lebih profesional.

Modul Budidaya dan Produksi Benih sebagai Bekal Pengembangan Usaha

Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University turut membagikan modul budidaya padi dan modul produksi benih kepada peserta.

Pemberian bahan pembelajaran ini ditujukan untuk memperkuat pemahaman teknis sekaligus menyediakan referensi yang dapat digunakan setelah kegiatan Sekolah Lapang selesai.

Modul budidaya membahas tahapan pengelolaan tanaman, mulai dari persiapan lahan, pemilihan benih, persemaian, penanaman, pemupukan, pengelolaan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga pemanenan.

Sementara itu, modul produksi benih memberikan pengetahuan mengenai penggunaan benih sumber yang sesuai, pemeliharaan kemurnian varietas, pengawasan pertanaman, serta penanganan hasil panen.

Proses pascapanen, termasuk pengeringan, pengolahan, pengemasan, dan penyimpanan, juga memerlukan perhatian karena berpengaruh terhadap kualitas benih sebelum digunakan atau didistribusikan.

Bagi calon produsen, penguasaan tahapan tersebut menjadi dasar dalam menyusun kegiatan produksi yang lebih terarah. Penerapan teknik budidaya yang tepat dan pengelolaan benih sesuai standar dapat mendukung upaya menjaga mutu produk.

Ketersediaan modul diharapkan membantu peserta mempelajari kembali materi secara mandiri serta menggunakannya sebagai panduan dalam penerapan kegiatan pertanian di lapangan.

Uji Organoleptik Perluas Pemahaman tentang Preferensi Konsumen

Selain membahas aspek produksi, Sekolah Lapang Kedua menghadirkan uji organoleptik terhadap nasi dari varietas padi IPB 9G dan IPB 15S.

Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenali karakteristik beras dan nasi melalui pengamatan menggunakan pancaindra.

Penilaian organoleptik dapat mencakup warna, penampilan, aroma, tekstur, tingkat kepulenan, dan rasa nasi setelah dimasak.

Pengujian tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan varietas padi perlu mempertimbangkan kualitas hasil yang akan dikonsumsi masyarakat.

Selain produktivitas, karakteristik beras dan nasi dapat menjadi faktor yang memengaruhi penerimaan konsumen.

Preferensi konsumen terhadap nasi tidak selalu sama. Ada yang menyukai nasi pulen dan lembut, sementara konsumen lainnya lebih memilih tekstur yang relatif pera. Karakteristik aroma dan penampilan beras juga dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan.

Bagi pengembangan usaha perbenihan, informasi mengenai karakteristik hasil dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan ketika mengenalkan varietas kepada petani.

Meski demikian, hasil uji organoleptik perlu dipadukan dengan informasi produktivitas, kesesuaian lingkungan, serta karakteristik resmi varietas sebelum menentukan pilihan pengembangan.

Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari cara menghasilkan benih, tetapi juga memahami pentingnya kualitas produk dalam rantai usaha pertanian.

Benih IPB 15S Diberikan untuk Mendukung Pengamatan di Lahan Demplot

Dalam kegiatan yang sama, Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University memperkenalkan varietas padi IPB 9G dan IPB 15S sebagai alternatif yang dapat dipelajari untuk pengembangan budidaya padi di Merauke.

IPB 9G diperkenalkan sebagai varietas yang berpotensi dikembangkan pada kondisi ketersediaan air terbatas. Adapun IPB 15S diperkenalkan sebagai pilihan varietas yang karakteristik adaptasinya dapat dipertimbangkan sesuai kondisi pertanaman.

Tim juga memberikan benih IPB 15S untuk mendukung penanaman di lahan demonstrasi atau demplot. Keberadaan demplot diharapkan menjadi sarana pembelajaran praktis bagi peserta untuk mengamati pertumbuhan tanaman, memahami penerapan teknik budidaya, dan mengevaluasi perkembangan pertanaman.

Pengamatan langsung di lapangan penting untuk membantu petani memahami respons tanaman terhadap kondisi lingkungan. Faktor seperti karakteristik tanah, ketersediaan air, iklim, dan pengelolaan tanaman perlu diperhatikan dalam menilai kesesuaian suatu varietas.

Hasil pengamatan demplot dapat menjadi bahan evaluasi bagi peserta dan tim pendamping. Namun, penilaian terhadap potensi hasil dan adaptasi varietas tetap memerlukan pengamatan yang memadai serta mengacu pada informasi resmi varietas.

Pengenalan IPB 9G dan IPB 15S yang disertai uji organoleptik juga memberikan pemahaman bahwa pemilihan varietas perlu memperhatikan dua aspek utama, yaitu kesesuaian untuk dibudidayakan dan kualitas hasil yang diinginkan.

Peningkatan Kapasitas Produsen untuk Mendukung Ekonomi Pertanian Lokal

Penguatan kemampuan calon produsen benih merupakan salah satu unsur pendukung pengembangan ekonomi pertanian. Ketersediaan pelaku perbenihan yang memahami proses produksi dan persyaratan mutu dapat membantu memperkuat kegiatan usaha pertanian di tingkat lokal.

Kabupaten Merauke memiliki kegiatan pertanian yang membutuhkan pengelolaan produksi secara terencana. Dalam konteks tersebut, peningkatan keterampilan petani dan calon produsen benih menjadi bagian dari upaya memperluas kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola usaha pertanian.

Sekolah Lapang memberikan ruang bagi peserta untuk mempelajari administrasi, teknik budidaya, produksi benih, dan karakteristik varietas. Materi tersebut dapat menjadi bekal awal untuk mengembangkan kegiatan perbenihan, dengan tetap memperhatikan standar teknis dan ketentuan yang berlaku.

Keberlanjutan program juga membutuhkan pendampingan setelah pelatihan. Pemantauan pertanaman, evaluasi hasil demplot, serta penguatan pemahaman mengenai pengelolaan mutu dapat membantu peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh secara lebih konsisten.

Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University melalui kegiatan ini berupaya mendukung peningkatan kapasitas calon produsen benih di Kampung Sermayam Indah.

Penguatan pengetahuan dan keterampilan tersebut diharapkan dapat menunjang pengembangan usaha perbenihan sekaligus memperluas pemahaman petani mengenai pilihan varietas dan kualitas hasil.

Pada akhirnya, pengembangan usaha pertanian yang berkelanjutan memerlukan keterpaduan antara keterampilan sumber daya manusia, teknologi budidaya, pengelolaan produksi, ketersediaan benih bermutu, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar.

Melalui pembelajaran serta pendampingan yang berkelanjutan, kapasitas produsen benih di Kabupaten Merauke diharapkan semakin berkembang dan mampu mendukung kegiatan pertanian lokal.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xbanner 970x250
xbanner 970x250
CLOSE ADS