banner 970x250

Benih Padi Jadi Peluang Bisnis Baru Petani Merauke, Ekspedisi Patriot IPB Perkuat Rantai Agribisnis

3 menit membaca View : 69
EDITOR
Bisnis, Ekonomi, Nasional, News - 04 Okt 2026

REDAKSI BISNIS | MERAUKE — Pengembangan bisnis pertanian di Papua Selatan mulai diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi gabah dan beras, tetapi juga pada penguatan usaha perbenihan di tingkat petani.

Peluang tersebut didorong Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University 2026 melalui Sekolah Lapang Penangkaran Benih Padi varietas IPB 9G dan IPB 15S di Kabupaten Merauke.

Kegiatan yang berlangsung pada 2–3 Oktober 2026 di Balai Kampung Sermayam Indah, Distrik Tanah Miring, dan lahan demplot mitra tersebut memberikan pembekalan kepada petani mengenai teknik penangkaran, pemeliharaan kemurnian varietas hingga prosedur sertifikasi benih.

Dari perspektif ekonomi, kemampuan memproduksi benih bermutu membuka peluang bagi petani untuk memperoleh sumber pendapatan baru.

banner 970x250

Petani tidak hanya berada pada posisi sebagai produsen gabah konsumsi, tetapi dapat masuk ke bagian hulu rantai agribisnis sebagai penyedia benih bagi petani lainnya.

Potensi tersebut menjadi semakin penting bagi Merauke yang terus dikembangkan sebagai salah satu kawasan produksi pangan.

IPB University sebelumnya juga telah melakukan pengenalan dan uji lapang varietas IPB 9G di Merauke sebagai bagian dari pengembangan inovasi pertanian di kawasan transmigrasi Salor.

Dalam sekolah lapang tersebut, PBT Papua Selatan Daniel Moya, S.P. memaparkan kondisi perbenihan di wilayah Papua Selatan.

Salah satu tantangan yang disoroti adalah aspek kelembagaan, termasuk belum terbentuknya BPSB Papua Selatan yang berkaitan dengan proses sertifikasi benih lokal.

Bagi pengembangan bisnis perbenihan, sertifikasi memiliki arti penting karena berkaitan dengan standar mutu dan kepercayaan terhadap produk benih yang dipasarkan.

Karena itu, peningkatan jumlah penangkar perlu diikuti dengan dukungan sistem pengawasan dan sertifikasi yang memadai.

PBT Berprestasi Nasional 2025 Abbas Alibasyah, S.P. dari BPSB Jawa Barat kemudian memberikan materi mengenai prosedur sertifikasi benih tanaman pangan sekaligus memperkenalkan varietas IPB 9G dan IPB 15S.

Peserta juga mendapatkan pemahaman bahwa usaha penangkaran membutuhkan pengelolaan yang berbeda dengan budidaya padi untuk konsumsi.

Kemurnian varietas harus dijaga sejak pertanaman hingga benih siap digunakan atau disalurkan.

Salah satu teknik yang dipraktikkan adalah roguing. Melalui metode tersebut, petani dilatih mengenali tanaman yang memiliki karakter berbeda dari varietas yang sedang dikembangkan dan melakukan seleksi untuk menjaga kemurnian pertanaman.

Jika kapasitas penangkar lokal terus bertambah, rantai pasok benih di Papua Selatan berpeluang menjadi lebih pendek dan dekat dengan kebutuhan petani.

Kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi baru di tingkat kampung dan kawasan pertanian.

Pengembangan usaha benih juga memiliki keterkaitan dengan produktivitas. Benih yang bermutu merupakan salah satu input penting dalam kegiatan budidaya, sehingga ketersediaannya menjadi bagian dari keberlanjutan produksi padi.

Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University 2026 berharap kegiatan sekolah lapang dapat mendorong semakin banyak petani mengambil peran sebagai penangkar.

Dengan demikian, pengembangan sektor padi tidak hanya mengejar volume produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari setiap mata rantai usaha.

Upaya tersebut sejalan dengan pendekatan Ekspedisi Patriot IPB University yang di sejumlah lokasi Merauke juga mengkaji rantai nilai bisnis beras dari sektor hulu hingga hilir.

Penguatan rantai nilai dinilai penting agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dari produksi padi dapat lebih besar kembali kepada petani dan masyarakat.

Pengembangan perbenihan juga dapat menjadi fondasi bagi terbentuknya ekosistem agribisnis yang lebih mandiri. Ketika produksi benih, budidaya, pascapanen, pengolahan hingga pemasaran dapat berkembang secara terintegrasi, peluang penciptaan nilai tambah di daerah semakin terbuka.

Ke depan, kolaborasi antara petani, pemerintah daerah, perguruan tinggi, penyuluh, pengawas benih dan pelaku usaha menjadi faktor penting untuk membangun bisnis perbenihan yang berkelanjutan.

Ekosistem tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi petani sekaligus mendukung kemandirian pangan Papua Selatan.

Bagi Merauke, pengembangan penangkar benih bukan sekadar persoalan teknis pertanian. Jika dikelola sebagai bagian dari rantai bisnis, perbenihan dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk menciptakan lapangan usaha, meningkatkan nilai tambah petani, memperkuat pasokan input pertanian, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komoditas lokal.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xbanner 970x250
xbanner 970x250
CLOSE ADS