banner 970x250

Harga Tapioka Membebani Produsen Kerupuk, Olih Sholehudin Dorong Solusi Nyata bagi UMKM

3 menit membaca View : 9
EDITOR
Bisnis, Ekonomi - 25 Okt 2026

REDAKSIBISNIS.COM — Kenaikan harga tepung tapioka menambah tantangan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya produsen kerupuk yang bergantung pada bahan baku tersebut. Tekanan biaya produksi membuat pengusaha harus mengatur ulang strategi usaha agar tetap mampu bersaing dan mempertahankan pelanggan.

Pengamat dan Praktisi UMKM, Olih Sholehudin, mendorong pemerintah segera merespons kondisi tersebut melalui langkah konkret yang menyentuh kebutuhan pelaku usaha.

Ia menilai Kementerian Perdagangan dan Kementerian UMKM perlu memperkuat koordinasi untuk memantau perkembangan harga bahan baku sekaligus melindungi keberlangsungan UMKM kerupuk.

Bagi produsen kerupuk, tepung tapioka merupakan salah satu komponen penting dalam proses produksi.

banner 970x250

Ketika harga bahan baku meningkat, biaya yang harus ditanggung pengusaha ikut bertambah. Persoalan semakin rumit bagi usaha kecil yang memiliki keterbatasan modal dan tidak leluasa menaikkan harga jual.

Dalam kondisi tersebut, pengusaha menghadapi dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi bisnis.

Mereka dapat menaikkan harga kerupuk untuk menutup kenaikan biaya produksi atau mempertahankan harga dengan menyesuaikan ukuran produk.

Kenaikan harga berpotensi memengaruhi keputusan belanja konsumen, sementara pengurangan ukuran dapat memengaruhi persepsi pelanggan terhadap produk.

Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi produsen kerupuk di Jabodetabek dan Jawa Barat, terutama dalam menjaga daya saing di tengah persaingan pasar.

Olih menilai persoalan tersebut perlu ditangani melalui kebijakan yang didasarkan pada kondisi nyata di lapangan.

Pemerintah perlu mengetahui perkembangan harga di berbagai tingkat perdagangan, ketersediaan pasokan, serta faktor distribusi yang dapat memengaruhi biaya pembelian bahan baku.

Kementerian Perdagangan diharapkan melakukan pemantauan harga dan distribusi tepung tapioka secara menyeluruh.

Sementara itu, Kementerian UMKM perlu menjaring aspirasi pelaku usaha dan memetakan dampak kenaikan biaya terhadap kegiatan produksi, perputaran modal, kemampuan memenuhi pesanan, serta kebutuhan tenaga kerja.

Langkah tersebut dapat menjadi dasar untuk merumuskan bentuk dukungan yang sesuai dengan kebutuhan UMKM. Penanganan yang tepat juga perlu mempertimbangkan kemampuan usaha kecil dalam menyerap kenaikan biaya tanpa harus mengorbankan kualitas produk atau kehilangan pelanggan.

Selain itu, paguyuban atau organisasi pengusaha kerupuk diharapkan mengambil peran aktif dengan menghimpun data dan menyampaikan persoalan anggotanya kepada pemerintah. Audiensi dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian UMKM dapat menjadi saluran untuk mengajukan masukan serta mendorong penyelesaian yang lebih terarah.

Bagi sektor UMKM, kepastian harga bahan baku dan kelancaran pasokan menjadi bagian penting dalam perencanaan bisnis. Ketika biaya produksi berubah, pelaku usaha membutuhkan informasi yang memadai agar dapat mengambil keputusan mengenai harga jual, kapasitas produksi, dan strategi pemasaran.

Karena itu, pemerintah diharapkan segera menindaklanjuti persoalan kenaikan harga tapioka dengan langkah yang terukur. Pemantauan pasar, evaluasi rantai distribusi, dan komunikasi langsung dengan produsen menjadi langkah penting untuk memastikan kebijakan yang disusun tidak berhenti pada tataran wacana.

Upaya tersebut diharapkan membantu produsen kerupuk mempertahankan kegiatan usaha, menjaga hubungan dengan konsumen, serta melindungi keberlangsungan ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor UMKM.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xbanner 970x250
xbanner 970x250
CLOSE ADS