banner 970x250

Inovasi Pembibitan Sagu di Merauke Buka Peluang Penguatan Ekonomi Berbasis Komoditas Lokal

3 menit membaca View : 23
EDITOR
Ekonomi, Nasional, News - 21 Sep 2026

REDAKSI BISNIS — Pengembangan sagu di Papua Selatan tidak hanya berkaitan dengan budidaya tanaman, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi ketika dikelola sebagai komoditas lokal secara berkelanjutan.

Perspektif tersebut terlihat dalam kegiatan Tim 12 Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi dan IPB University yang menggelar pelatihan budidaya sagu di Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, pada 15 September 2026.

Pelatihan yang diikuti sekitar 36 peserta dari Kampung Tambat dan sejumlah kampung lokal di Distrik Semangga tersebut memperkenalkan teknik pembibitan anakan sagu dengan metode kolam.

Kegiatan turut dihadiri perwakilan Dinas Tanaman Pangan dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Tanah Miring.

banner 970x250

Dari sisi ekonomi, penguatan tahap pembibitan menjadi bagian penting dalam membangun basis produksi komoditas.

Ketersediaan bibit dan kemampuan masyarakat dalam mengelolanya dapat menjadi faktor pendukung apabila pengembangan sagu diarahkan secara lebih luas, mulai dari budidaya hingga pemanfaatan hasilnya.

Dalam praktik lapangan, sebanyak 60 anakan sagu disiapkan untuk dibibitkan. Masyarakat terlibat langsung dalam proses penyiapan dan penempatan anakan pada media pembibitan.

Metode kolam diperkenalkan sebagai salah satu alternatif dalam pemanfaatan ruang untuk kegiatan pembibitan.

Peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan Trichoderma dan Rootone-F dalam proses pembibitan. Trichoderma digunakan sebagai bagian dari perlakuan pendukung pertumbuhan tanaman, sedangkan Rootone-F merupakan zat perangsang pertumbuhan akar.

Pengetahuan mengenai teknik pembibitan tersebut dapat menjadi modal keterampilan bagi masyarakat dalam mengembangkan tanaman sagu pada tahap awal.

Pengembangan sagu dari perspektif bisnis membutuhkan rantai kegiatan yang tidak berhenti pada pembibitan.

Produktivitas tanaman, pemeliharaan, pengolahan pascapanen, diversifikasi produk, akses pasar, hingga kemampuan masyarakat membangun nilai tambah menjadi faktor yang turut menentukan manfaat ekonomi dari komoditas tersebut.

Karena itu, pelatihan di Kampung Tambat dapat dilihat sebagai salah satu tahapan penguatan kapasitas masyarakat.

Pengetahuan teknis yang diperoleh melalui praktik langsung dapat menjadi dasar untuk pengembangan budidaya berikutnya, meskipun keberhasilan produksi dan nilai ekonominya tetap bergantung pada pemeliharaan, skala pengembangan, pengolahan, serta akses terhadap pasar.

Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, penyuluh, dan perguruan tinggi juga memiliki peran dalam membangun ekosistem pengembangan komoditas lokal. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pengetahuan dan inovasi, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam penerapan di lapangan.

Bagi Kabupaten Merauke dan Papua Selatan, pengembangan sagu berbasis masyarakat berpotensi menjadi bagian dari strategi pemanfaatan sumber daya lokal.

Jika diikuti penguatan kapasitas produksi, teknologi pengolahan, kelembagaan usaha, dan akses pasar, komoditas sagu dapat dikembangkan tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Pelatihan budidaya sagu yang digelar Tim 12 Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi dan IPB University tersebut dengan demikian menjadi salah satu titik awal pengenalan inovasi pembibitan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan tersebut dapat diterapkan secara konsisten dan terhubung dengan pengembangan rantai nilai sagu yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. (Red)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xbanner 970x250
xbanner 970x250
CLOSE ADS